Masa Sulit

Beberapa waktu belakangan ini banyak anak muda yang berlomba untuk hijrah, ya gak? Kalo saya ngerasanya gitu. Terutama di Bandung ini yang lagi rame soal pemuda hijrah.

Gerakan yang digawangi oleh Ustaz Hanan Attaki ini jadi salah satu wadah pemuda-pemudi yang ingin hijrah. Saya salah satunya.

Pembawaan Ustaz Hanan yang kalem, bahasannya yang anak muda banget tapi tetep berlandaskan Alquran dan kisah Nabi, ngebuat pendengar jadi gak bosen.

Seperti yang kita tau, sebelumnya pandangan anak muda terhadap kajian atau ceramah itu pasti sesuatu hal yang kolot, membosankan, terkesan mendikte kita.

Sementara adanya gerakan Pemuda Hijrah ini justru mematahkan stigma itu.

Pemuda yang mungkin biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat game, cafe, mall, bioskop, pelan-pelan ikut datang ke kajian.

Bayangin, masjid Trans Studio Mall yang gede banget itu dipenuhi sama pemuda-pemudi dari berbagai daerah sekitar Kota Bandung. Berbondong-bondong untuk mendapatkan ilmu baru, sharing, atau niat lain (wallahualam).

Dan saya jadi salah satu pendengar yang kagum dan bersyukur. Kagum liat pemuda Bandung yang berlomba mencari dan menambah ilmu agama.

Sewaktu saya mencoba rutin kajian, kondisi diri lagi gak stabil.

Saat itu saya lagi dilema berat antara meninggalkan yang mudarat demi mendapat ridha Allah atau tetap bertahan karena jabatan dan uang. Awalnya saya memilih untuk bertahan.

Tapi, setelah mengikuti beberapa kali kajian, tema yang diangkat Ustaz Hanan bener-bener nampar saya langsung. Tema itu berkorelasi dengan keadaan saya saat itu.

Entahlah, ini semua seakan skenario Allah aja gitu. Saya merasa Allah udah ngasih jalan dengan hal tersebut. Hingga akhirnya saya pun mengambil resiko cukup besar.

Pelan-pelan saya mulai berdamai dengan diri sendiri, saya mulai pasrah tapi tetap usaha dan doa, hasilnya gimana nanti. Tapi, di tengah-tengah itu, saya dihadapi godaan yang bikin saya lalai: Menganggap semuanya gak adil.

Tapi, saya langsung keinget quotes “Saat kita meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah pasti akan memberikan yang jauh lebih baik. Entah itu di dunia atau di akhirat”

Plus..

“Awalnya memang akan terasa sulit, berat, putus asa hingga ingin menyerah, tapi jika kita tetap istiqomah, insyaAllah akan ada jalan terbaik yang diberikan Allah buat kita”

Karena keyakinan kepada Allah, quotes itu, semangat dari orang tua, hingga semangat teman, saya mulai ikhlas menghadapi masa-masa sulit.

Meskipun saya belum tau apakah ini memang yang terbaik buat saya atau bukan, tapi yang jelas, saat ini tugas saya harus melakukan hal-hal baik karena Allah. Pokoknya diniatkan untuk ibadah.. pelan-pelan hati rasanya semakin tenang..

Saya juga saat ini masih berjuang dan berusaha untuk terus istiqomah, ilmu agama saya masih dangkal, sangat sangat sangat dangkal, tapi lewat tulisan ini saya ingin berbagi dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Seperti kata temen saya, hidayah pasti akan datang dari mana pun jalannya. Kalo Allah udah berkehandak, ya tinggal kun fayakun.

Yuk, sama-sama memperbaiki diri dan berlomba untuk jadi pribadi yang selalu mendapat ridha Allah.

Cheers, A!

Advertisements

Relax

Ok. Keep calm, just relax.

You just need to be patient for all of this.

You should enjoy the process.

Everything is gonna be alright.

Do not let it get you down.

Universe has a way of working things out.

Do not blame others and yourself.

I know it hurts, myself.

But please, trying to process those things and release them.

It’s not the end,

There is something better better for you.

Trust me.

– 2.00 am thought.

Kembali

Dingin ini kembali merasuk jiwa.
Tentang asa yang tak sampai.
Tentang lalu yang tak tergenggam.
Tentang jiwa yang kembali terjatuh.
Bagaimana ini bisa terjadi lagi?
Bukankah sebuah mantra sudah diucapkan?
Bahwa kau sudah baik-baik saja, diriku?
Bahwa kau sudah menghapus yang lalu?
Ah, nyatanya kau belum bisa. Ya, diri ini masih belum bisa

June 15th, 2015. 11:15 pm

#TumblrViaWordpress

Hening

Itulah nama perempuan yang sedang bermuram di pojok sebuah kedai mungil. Tatapannya kosong. Tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Bola matanya terlihat menengadah ke ruang yang tak diketahui orang banyak. Ruang yang hanya ditempati oleh dirinya sendiri.

Tangannya seketika melingkar di cangkir kopi panas. Seolah mencari kehangatan yang masih tak ditemuinya.

Satu teguk. Dua teguk. Tiga teguk. Ia terus meminum kopi itu agar kehangatan menyelimuti kerongkongannya. Rasa haus perlahan sirna, namun kekosongan masih tak kunjung hilang.

Ia lagi-lagi menengadah. Mencari sesuatu yang seolah masih hilang. Entah apa. Matanya perlahan sayu sembari melihat gemericik air di luar kedai. Kedai mungil dan kopi selalu menjadi teman setia di kala segalanya terasa dingin menancap di dada.

Saat dirinya sedang menjelajah seorang diri, seketika muncul satu nama yang tak asing lagi. Lalu, Hening yang kosong seketika tersenyum lebar melihat layar telepon selulernya.

Tatapan kosong itu tak terlihat lagi. Yang ada hanyalah guratan kebahagiaan yang tak terbendung di dalam dirinya. Lalu, siapakah nama yang muncul itu? Entahlah. Hanya Hening yang tahu semuanya. Hening yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Dunia yang sulit dijelajahi oleh siapapun yang berniat singgah.

Jatinangor

Tempatnya tak seberapa, hanya sepetak ruangan di lantai 2 sebuah toko mungil. Menunya pun tak seberapa, hanya hidangan varian kopi dan cokelat yang mengunggah selera. Dipenuhi oleh sejumlah meja dan kursi dengan suara bising dari obrolan para mahasiswa.

Tapi, ada satu yang tak biasa. Balkon kedai mungil ini yang hanya bisa ditempati empat hingga lima orang saja.

Balkon kecil yang menghadap ke depan jalanan Jatinangor yang ramai.

Jalanan yang dipenuhi oleh motor hingga truk berlalu lalang. Membuat para pejalan kaki selalu mengalah. Menjadikan jalanan kecil ini terasa sedikit menyeramkan, terlebih bagi para pesinggah yang baru datang.

Namun, semua ini tertutupi oleh kenangan manis yang selalu dihadirkan dari kecamatan kecil ini. Jatinangor memang selalu menghadirkan kenangan dalam setiap sudutnya. Kenangan sederhana yang membuat setiap orang akan rindu padanya. Kesederhanaan yang berbeda jauh dari kota besar lainnya.

Kesederhanaan yang awalnya dibenci oleh para pendatang. Terkesan menolak untuk tinggal di sini, tapi nyatanya kesederhanaan ini yang kerap dirindukan mereka.

Jatinangor memang selalu menghadirkan kesederhanaan kepada siapapun yang datang. Kesederhanaan yang perlahan membuat kenangan-kenangan menyeruak ke permukaan. Pun, membuat siapapun ingin singgah lagi di sini.

Semua kesederhanaan ini ternyata masih menunggumu untuk kembali. Tak perlu berlama, hanya sekejap untuk berbincang dengan kawan lama. Yakinlah, semuanya akan kembali seperti dahulu kala, meski hanya beberapa menit saja.

Break The Limits

If you never try, You’ll never know.

Prinsip itu yang saat ini lagi saya tanamkan dalam-dalam. Prinsip yang mungkin saja akan mengubah nasib hidup saya. Prinsip yang tentu akan menghasilkan resiko besar dalam hidup saya. Prinsip yang akan sedikit mengguncang diri saya sendiri. Prinsip yang berawal dari quotes tapi saya yakini dalam-dalam.

Meskipun akan sulit.

Meskipun melalui berbagai penolakan.

Meskipun sempat ingin menyerah.

Meskipun sakit hati.

Tapi selama kita sudah berusaha dan berdoa, pasti Allah akan kuatkan kita dengan cara-Nya sendiri.

Pun, saya yang saat ini lagi mengalami hal itu. Melewati beberapa penolakan dan menjalani beberapa hal yang sulit, tapi dari sana saya belajar banyak hal.

Saya jadi tau ternyata pemahaman saya di mana, kekurangannya di mana, ke depannya harus gimana. Semuanya terkumpul seiring beberapa “ujian” yang saat ini ada di depan saya.

Saya berani mengambil resiko, padahal saya merasa belum cukup capable, tapi apa salahnya untuk mencoba, bukan? Meskipun saat melalui serangkaian test, saya merasa bodoh dan gagal. Seenggaknya saya sudah mencoba dan berusaha memperbaiki kesalahan itu untuk ke depannya.

Masih banyak “gerbang-gerbang” lain yang ada di depan mata. Saya berusaha sekuat tenaga untuk membuka salah satu gerbang yang emang terbaik bagi saya.

Intinya harus yakin terus sama Allah, di balik semua “ujian” ini pasti Allah akan memberikan jalan terbaik bagi hamba-Nya.

Yakin aja dulu. Tetep husnudzon sama Allah. Yang bisa kita lakukan sekarang hanya doa dan usaha. Untuk urusan hasil, ya gimana nanti, Allah pasti ngasih yang terbaik.

Fighting!

4:44

Hari ini, Jumat 6 April 2018 pukul 4:44 pm saya dapat hadiah yang udah ditunggu-tunggu selama satu tahun ke belakang. Iya! Saya nunggu waktu yang pas dari semenjak Januari 2017 lalu.

Apa hadiahnya? Telepon! Bukan sembarang telepon, tapi ini bener-bener telepon yang saya tungguin terus. Telepon yang menjadi jalan saya untuk ke satu tujuan. Tujuan yang bisa nuntun saya untuk belajar dan berkembang.

Intinya tujuan yang saya impikan selama ini.

Seneng? Banget! MasyaAllah senengnya bukan main. Sekarang giliran usaha dan doa saya harus ditingkatkan lagi. Semoga hasilnya emang yang diharapkan dan terbaik. Aamiin!

O Allah please make it easy… make it end well….

Wish me luck…

Lagi-lagi Tentang Timezone

Sebenernya timezone setiap orang itu akan datang sendiri atau harus kita cari?

Kalo menurut saya, harus kita cari. Tapi masalahnya, kalo kita sudah mencari tapi ternyata you ignored by them. Gimana? Cari cara lain? Yup! Pasti harus cari cara dan tujuan lain.

Gak mudah emang. Sangat gak mudah. Pasti berbagai usaha dan doa udah dilakukan tapi kok gak menemukan timezone yang dibilang orang-orang?

Mungkin belum saat ini. Mungkin kamu masih harus berkelana di tujuan lain sebelum akhirnya menemukan timezone kamu yang sesungguhnya.

Jangan sampai keterpurukan kamu mencari timezone justru membuat kamu semakin jatuh dan selalu merasa tidak ada hasilnya. Jangan.

Karena bagaimanapun, setiap orang juga pasti masih berkelana untuk mencari timezone versi dia sendiri. Jika kamu mengira orang lain sudah punya timezone-nya sendiri, belum tentu dengan orang itu. Mugkin saja sebenarnya orang itu masih susah payah mencari timezone-nya di tempat saat ini.

Pemikiran di atas ini sebenarnya untuk saya sendiri. Iya, saya lagi-lagi meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Pun, meyakinkan diri jika kamu memang pantas, Mal. Tapi mugkin hanya masalah waktu saja yang belum tepat.

Let it flow. Tetap berdoa dan ikhtiar, everything is gonna be alright, Mal. Cheer up!

Masih Tertutup Rapat

Some things are better left unshared

Quotes yang lupa dapetnya dari mana. Quotes yang selalu jadi acuan saya untuk gak banyak membuka diri dengan orang lain. Walaupun prinsip ini emang gak sepenuhnya bener, tapi saya pribadi selalu merasa nyesel aja kalo udah banyak cerita dengan orang lain.

Jadi mikir “Mal, tadi kenapa harus cerita soal ini ke dia?” “Buat apa cerita kayak gitu?” “Nanti gimana kalo begini? Gimana kalo begitu?” Pokoknya jadi ngerasa nyesel banget deh kalo udah terlalu blak-blakan. Seolah pelan-pelan pribadi saya mulai keliatan. Nanti kalo keliatan, orang bisa semakin bisa ‘membaca’ saya. Nanti bukan cuma dia yang tau, bisa aja tersebar ke orang lain. Dan saya gak suka kayak gitu. Iya, saya lebih suka menyimpan semuanya rapat-rapat.

But, some things are better shared with the right person, rite? Iya. Saya pun suka mikir gini, tapi some things-nya itu hanya sepersekian persen. Mungkin hanya 20% dari 100%.

Mungkin ga baik kalo terus menerus kayak gini. Sangat gak baik malah. Tapi untuk sekarang, saya lebih memilih seperti ini. Mungkin semuanya akan berubah saat saya bertemu dengan kamu?